Cari Blog Ini

Humanitas

Foto saya
Depok, Jawa Barat, Indonesia
Mengikuti pembelajaran tinggat SMA di SMAN 3 DEPOK selama hampir 3 tahun,membuat saya sangat mencintai sekolah ini .Semua kenangan terhampar bebas di sudut Smanti,begitu siswanya menyebut .Tahun depan akan menghadapi UN 2012 dan akan LULUS dan akan melanjutkan studi ke TEKNIK PERTANIAN - INSTITUT PERTANIAN BOGOR(amin).Ingin menjadi seorang wiraswasta dan akan menghilangkan 'import beras' .Sekarang sedang berjuang melawan kemalasan dan ke absurdan hidup yang dialami sejak beberapa bulan lalu naik ke kelas 12,berusaha datang terus ketika bimbel tapi tidak menutup kemungkinan untuk datang telat satu jam .Malas les ketika hujan .Baru-baru ini dipecatsecara halus dari dunia per-paskibraan SMA 3 .Blacklist.Mereka menyebutnya .Dan ingin melupakan semua kegiatan konyol yang diikuti lebih kurang 2 tahun belakangan ini di sekolah ,namun tidak ingin melupakan semua kenangan manis,pahit,asam,asinnya . .Sangat tergila-gila pada Jack Barakat ,gitaris dari band ALL TIME LOW .Menurut saya dia adalah seorang yang gila .Salah satu cita-cita terbesar saya adalah menyambangi ANFIELD STADIUM .Lalu kehabisan ongkos unutuk pulang ke Tanah Air dan akhirnya menetap disana

tulisan gue

Selasa, 04 Maret 2014

MANAJEMEN AGRBISNIS - INTENSITAS LAHAN


Bab I
Pendahuluan

Latar Belakang
Memanajemen dalam pelaksanaan kegiatan/ usaha tani di mulai dari bagaimana mengelola sumberdaya pertanian dengan baik, mulai dari perencanaan tentang komoditi apa saja yang akan di tanam dalam suatu lahan pertanian, melihat peluang bisnisnya. Tidak hanya melihat dari segi faktor ekonominya saja tetapi juga melihat dari segi faktor biologis, fisiologis,dan morfologi tanaman yang akan ditanam selain itu , dari segi sosiologi dan agamanya apakah tanaman yang akan ditanam diterima atau tidak di kalangan masyarakat dan tentunya tidak dilarang oleh agama.  Mengolah  sumberdaya pertanian yang dimiliki dengan seefektif dan seefisien mungkin merupakan kunci utama kemajuan usaha tani. Oleh karena itu, pada makalah ini kelopmpok kami akan merincikan tanaman yang kami tanam dengan melihat dari berbagai aspeknya.












BAB II
Pembahasan
A . Faktor Fisik
·         Padi
Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspecies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan. Varitas unggul nasional berasal dari Bogor: Pelita I/1, Pelita I/2, Adil dan Makmur (dataran tinggi), Gemar, Gati, GH 19, GH 34 dan GH 120 (dataran rendah).Varitas unggul introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) Filipina adalah jenis IR atau PB yaitu IR 22, IR 14, IR 46 dan IR 54 (dataran rendah); PB32, PB 34, PB 36 dan PB 48 (dataran rendah).
Syarat Pertumbuhan

Iklim
1. Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.
2. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim
kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif.
3. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperature 22-27 derajat C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperature 19-23 derajat C.
4. Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.
5. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman.
Media Tanam
6. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah.
7. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm.
8. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. pH tanah yang paling sesuai untuk tanaman padi ialah 5.5 – 6.5. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi.
Padi (Oryza sativa) merupakan tanaman semusim yang sangat bermanfaat diIndonesia karena menjadi bahan makanan pokok.Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah mulai dari daratan rendah sampai daratan tinggi.Bila didataran tinggi kita mengenal padi gogo,maka didataran rendah kita mengenalnya dengan padi sawah.Umumnya padi dapat dibudidayakan sampai pada ketinggian 1.200 m dpl.
·         Jagung Manis
Tanaman jagung adalah tanaman yang  memiliki tingkat fotosintesis tinggi, jadi sangat memerlukan cahaya matahari. Maka lokasi yang baik untuk budidaya tanaman jagung adalah areal yang terbuka berupa sawah atu ladang yang tidak terlindung dari cahaya matahari.

Lokasi untuk budidaya tanaman jagung sebaiknya tidak tergenang air, namun memiliki kadar air yang cukup. Selain itu, dalam pemilihan lokasi untuk tanaman jagung, sebaiknya harus sesuai dengan syarat tumbuh tanaman jagung, atau yang dibutuhkan oleh tanaman jagung. Syarat tumbuh dijelaskan sebagai berikut.

1.    Susunan atau sifat tanah
Sebenarnya semua jenis tanah dapat ditumbuhi jagung, namun sifat tanah yang paling dikehendaki oleh tanaman jagung adalah yang drainasenya lancar, subur dengan humus dan pupuk yang mencukupi persediaan untuk tumbuh.

2.    Iklim
Iklim atau cuaca rata-rata suatu daerah turut berperan serta dalam menentukan pertumbuhan dan produksi suatu tanaman. Iklim yang tidak mendukung, misalnya banyak hujan badai dan angin rebut bahkan banjir, akan berpengaruh pada pertumbuhan, termasuk pada tanaman jagung.
Walaupun tanaman jagung sangat cocok pada daerah yang beriklim sejuk dan dingin, namun jika terlalu banyak hujan juga akan mengurangi kualitas  jagung.

Tanaman jagung dapat berproduksi dengan baik dan berkualitas pada daerah yang beriklim sejuk yaitu 50 derajat LU sampai 40 derajat LS dengan ketinggian sampai 3000 meter dari permukaan laut. Namun, untuk jenis-jenis jagung tertentu, dapat juga pada tempat yang berbeda dari kondisi tersebut dan dapat berproduksi dengan baik.
3.    Derajat keasaman tanah (pH)
Derajat keasaman tanah dipengaruhi oleh banyaknya kandungan unsure kimia dalam tanah serta kadar air dalam tanah tersebut. Daerah yang cenderung basah dan banyak humus akan menyebabkan tanahnya cenderung bersifat asam.

Sebaliknya tanah yang kering berkapur dengan kadar air yang sedikit akan lebih bersifat basa. Untuk tanaman jagung sebenarnya  toleransi atau kemampuan untuk beradaptasi pada lingkungan cukup baik, yaitu dengan kemampuan hidup maksimal pada derajat keasaman antara 5,5 sampai 7.
Derajat keasaman ada skala 14 skala, untuk skala 1 sampai 7 bersifat asam, sedangkan antara 8 sampai 14 bersifat basa.

4.    Kadar air
Jumlah air yang ada dalam tanah akan menentukan kadar air tanah. Tanaman jagung memerlukan air terutama untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan. Jadi penanaman jagung pun banyak diawali pada saat musim hujan mulai tiba. Selain menghemat tenaga untuk menyiram juga menambah sejuk/menambah kelembaban udara. Sehingga tanaman tidak kekurangan air, karena dapat mengganggu proses fotosintesis atau penyusunan makanan yang dilakukan untuk beraktifitas dan berproduksi dari tanaman jagung tersebut.

5.    Intensitas cahaya matahari
Intensitas cahaya adalah jumlah pancaran cahaya matahari yang intesif dan dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup. Untuk tanaman jagung, intensitas cahaya yang banyak dan cukup sangat dibutuhkan selain untuk berfotosintesis, juga untuk berproduksi, karena tanpa intensitas cahaya yang cukup, bunga tidak dapat berhasil menjadi buah.

6.    Suhu lingkungan
Suhu adalah tingkat derajat panas suatu benda yang ada dalam lingkungan. Lingkungan tempat hidup jagung sangat perlu untuk diperhatikan, karena suhu yang tinggi dan kering akan mengganggu kelangsungan proses penyusunan makanan atau fotosintesis pada tanaman jagung.

Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah antara 21 sampai 30 derajat celcius. Sedangkan untuk proses perkecambahan jagung, yang paling tepat adalh antara suhu 21 sampai 27 derajat celcius. Jadi, sedikit lebih membutuhkan suhu yang lebih sejuk untuk pertumbuhan kecambahnya.

Pada umumnya tanaman njagung ditanam pada lahan yang kering dengan cara multikultur, artinya ditanam bersama dengan beberapa jenis tanaman yang lain. Namun, penanaman jagung pada lahan kering ini tidaklah mutlak, sebab ternyata tanaman jagung juga dapat tumbuh pada lahan basah yang terdapat pengairan serta sawah tadah hujan, secara monokultur yaitu menanami lahan hanya dengan satu jenis tanaman.

·         Cabai
Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.
PT. Natural Nusantara (NASA) berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (K-3), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.

FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
·         Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2.
·         Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu).
·         Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2.
·         Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm.
·         Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt). Supernasa : 1 botol dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk. Atau 1 gembor (+ 10 liter) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA dan siramkan ke bedengan + 5-10 m.
·         POC NASA : 1 gembor (+ 10 liter) diberi 2-4 tutup POC NASA dan siramkan ke bedengan sepanjang + 5 - 10 meter.
·         Campurkan GLIO 100 - 200 gr ( 1 - 2 bungkus ) dengan 50 - 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu dan sebarkan ke bedengan.
·         Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 - 2 minggu ).

2. Benih

·         Kebutuhan per 1000 m2 1 - 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30.
·         Biji direndam dengan POC NASA dosis 0,5 - 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.


FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)

1. Persiapan Persemaian

·         Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
·         Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.
2. Penyemaian

·         Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring.
·         Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS.
·         Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban.


FASE TANAM
1. Pemilihan Bibit


·         Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus.
·         Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari).
2. Cara Tanam

·         Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.
·         Plastik polibag dilepas.
·         Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah untuk budidaya kedelai sangat penting, karena kedelai harus berkecambah dengan semppurna supaya dpat berkembang dengan maksimal, selain itu benih juga memerlukan kelembapan dan oksigen yang cukup.

 Kondisi lahan yang akan ditanami:
 
1.   Tanah       tegalan 
Pengolahan tanah pada tegalan dilakukan dengan cara dibajak, digaru dan diratakan. Sisa-sisa gulma dibuang, dan pelaksanaannya dilakukan pada akhir musim kemarau karena pada awal musim hujan benih ahrus segera ditanam. 
Untuk penanaman kedua tanah tidak usah diolah lagi. Dan jangan lupa membuat bedengan atau kalenan-kalenan seperlunya.

2.    Permukaan lereng
Pengolahan dilakukan dengan cara terasering agar erosi pada permukaan tanah dapat diperkecil.

3.    Lahan sawah
Tanah diolah dengan cukup untuk membuat jerami padi sampai kepermukaan tanah, kemudian jerami disingkirkan. Buat lubang dengan tugal pada petakan dengan lebar 3 m – 10 m, panjang disesuaikan dengan kondisi lahan
. 
Diantara  petakan dibuat saluran drainase selebar 25-30 cm, dengan kedalaman 30 cm, diamkan selama 7-10 hari untuk menutupi bibit yang telah ditebar atau dimasukan ke dalam tanah yang ditugal.
Pemilihan Bibit

Benih yang baik untuk budidaya kedelai ialah benih yang sudah cukup tua, utuh, dan warnanya mengkilat. Bibit dibutuhkan sebanyak 50-75 kg untuk 1 ha, bibit bisa didapat dari took-toko yang menyediakan bibit ataupun denga bibit hasil pertanian sendiri.

Untuk mendapatkan  hasil budidaya yang maksimal maka pemilihan bibit pun harus  yang berkualitas. Syarat-syarat bibit unggul:

1.    Benih dipanen setelah buah matang
2.    Diambil dari tanaman yang sehat
3.    Produksi tinggi
4.    Pertumbuhan tanam seragam
5.    Bersih dari kotoran, hama, penyakit dan gulma
6.    Tidak keriput, tidak luka, dan mengkilat
7.    Harus kering benar
8.    Sudah harus ditanam paling lambat 8 bulan sejak dipanen
9.    Disimpan dalam kelembapan < 60%

Ada dua cara untuk mengadakan pembibitan yaitu, bibit disimpan dalam bentuk biji dan bibit disimpan dalam bentuk buah.

Bibit yang disimppan dalam bentuk biji, caranya tanaman yang sudah kelihatan tua yang buahnya banyak, batangnya besar, buahnya tidak mudah pecah dan bebas penyakit lalu kita petik.
Kemudian ditampi. Pilih biji yang besar, mulus dan tidak keriput, kemudian dijemur lagi hingga kering. Campurkan debu sedikit minyak tanah. Masukan ke dalam kaleng dan tutup rapt-rapat.

Bibit yang disimpan dalam bentuk buah caranya, tanaman di cabut dan dijemur sampai benar-benar kering. Ikat dan gantungkan di atas tungku api. Menjelang tanam, yaitu 3-4 hari sebelum tanam ikatan dipukul-pukul agar biji lepas kemudian dipilih biji yang baik dan dijemur.

Pembuatan Lubang Tanam

Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan alat tugal, lubang dibuat sedalam 3-4 cm. jarak tanam tergantung dari kesuburan tanah, dan ketersedian air maupun varietas yang ditanam. Dapat menggunakan ukuran 20 x 40 cm, 25 x25 cm, 30 x 15 cm atau 30 x 30 cm.

Cara Penanaman

Cara penanaman kedelai ada dua cara, dengan cara ditebar dan dengan cara ditugalkan. Penanaman dengan cara ditebarkan akan memperoleh tumbuhan yang tumbuh tidak merata, bibit yang dibutuhkan lebih banyak, namun waktu dan tenaga yang digunakan lebih singkat.
Penanaman dengan cara ditugal memerlukan 3 orang, 1 oorang untuk membuat lubang, 1 orang memasukan benih, dan 1 orang lagi memasukan pupuk dasar dan menutup lubang.

Apabila penanaman dilakukan pada lahan yang tidak pernah ditanami kedelai, maka benih dicampur dengan bakteri rhizobium. Caranya sama seperti yang dijelaskan pada pembahasan budidaya kacang hijau, yaitu dicampur dengan legin.

Setiap 5-10 gram dibatasi sedikit air, kemudian dicampur dengan benih 1 kg. jika legin tidak ada, benih bisa diberi tanah yang sudah sering ditanami kedelai (kacang-kacangan). Setiap 1 kg benih dicampur dengan 100-250 gram tanah. Kemudian diangin-anginkan, lalu ditanam tiap lubang 2-3 butir benih.
Tahap Pemeliharaan Tanaman

1.    Pengairan

Pengairan dapat dilakukan dengan menggenangi saluran drainase selama 15-30 menit. Tanah jangan terlalu becek ataupun kekeringan. Saat perkecambahan umur 0-5 hari, 15-20 hari, masa pembungaan dan pembentukan biji (35-65 hari), sangat memerlukan air. Sedangkan saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.

2.    Pemupukan

Pemupukan dilakukan 2 kali, yaitu, sebelum dilakukan penanaman atau saat tanam, dan pupuk susulan.
Dosis pupuk yang diberikan pada tanaman kedelai yaitu, TSP 75 kg – 200 kg/ha, KCl 50 – 100 kg/ha, dan Urea 50 kg/ha. Sedangkan untuk pupuk susulan yaitu urea 50 kg/h, pupuk susulan diberikan ketika tanaman berumur 20-30 hari setelah tanam. Pupuk diberikan didalam larikan  di antara barisan tanaman kedelai kemudian ditutup tanah.




3.    Penyulaman dan penyiangan

Penyulaman dilakukan seminggu setelah benih ditanam, hal ini dilakukan untuk mengganti apabila ada tanaman yang mati.

Kegiatan penyiangan pertama dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Sedangkan penyiangan kedua dilakukan setelah tanaman berbunga. Penyiangan dilakukan untuk untuk membersihkan gulma dan penggemburan tanah dapat dilakukan pada saat penyiangan.

B. Faktor Biologis     
    HAMA TANAMAN PADI
Tikus sawah ( Rattus argentiventer Rob & Kloss )
Bioekologi :
Bagian punggung berwarna coklat muda berbecak hitam, perut dan dada putih. Panjang kepala dengan badan 130-210 mm, ekor 120- 200mm, dan tungkai 34-43 mm. Jumlah putting susu tikus betina 12 buah, 3 pasang di dada dan 3 pasang di perut.
Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Serangan tikus dapat terjadi sejak di pesemaian, pertanaman sampai pasca panen. Pada pesemaian sampai tanaman fase vegetatif , populasi tikus umumnya masih rendah dan kepadatan populasi meningkat pada fase generatif.
Di lahan yang ditanami padi secara terus menerus ( 2 kali/tahun) puncak populasi akan terjadi 2 kali , yaitu pada saat tanaman fase generatif. Di lahan yang ditanami padi 1 kali/tahun , puncak populasi hanya terjadi 1 kali, yaitu fase generatif.
Pada saat tanaman fase generatif, kebutuhan gizi tikus jantan belum terpenuhi, untuk membuahi tikus betina. Perkembangbiakannya mulai terjadi saat primordial dan terus berlangsung sampai fase generatif. Tikus jantan siap kawin pada umur 60 hari, sedangkan tikus betina siap kawin pada umur 8 hari. Masa bunting berlangsung selama 19-23 hari. Dua hari setelah melahirkan, tikus betina mampu kawin lagi.
Jumlah anak berkisar 2-18 ekor/induk/kelahiran :
- kelahiran I : 6-18 ekor/induk.
- kelahiran II s/d VI : 6 – 8 ekor/induk.
- kelahiran VII, dst : 2-6 ekor/induk.
Secara teoritis dari 1 pasang tikus dapat menjadi ± 2.000 ekor dalam waktu 1 tahun.
Pada saat tanaman fase vegetatif, tikus hidup soliter dan di luar liang, sedang pada fase generatif, tikus hidup berpasang-pasangan dan tinggal di dalam liang.
Pada saat tanaman fase vegetatif, kontruksi liang dangkal dan tidak bercabang-cabang. Setelah fase generatif , liang dibuat lebih dalam, lebih panjang, bercabang-cabang dan mempunyai pintu lebih dari satu. Persawahan dengan pematang yang sempit ( lebar < 30 cm), hanya sedikit digunakan sebagai tempat liang.
Luas wilayah dan jarak jelajah harian tikus dipengaruhi jumlah sumber pakan da populasi tikus. Bila sumber pakan berlimpah ( fase generatif tanaman ), jelajah hariannya pendek ( 50-125 m ) dan bila sumber pakan sedikit ( fase pengolahan tanah sampai dengan akhir vegetatif) jelajah harian panjang ( 100- 200 m ). Migrasi tikus mencapai 1-2 km. Tetapi bila daya dukung wilayah menjamin, tikus tidak akan bermigrasi.
Untuk kelangsungan hidupnya, tikus memerlukan pakan, air dan tempat persembunyian. Keberadaan tikus di lapang dapat diketahui dengan cara pengumpanan tanpa racun yang dipasang minimal sebanyak 20 titik umpan/ha atau pengamatan jejak dan jalan lintas tikus.
TEKNIK PENGENDALIAN.
Pengendalian tikus harus sudah dilaksanakan pada saat tanaman padi di persemaian sampai anakan maksimum dengan teknik pengendalian sebagai berikut :
1. Pada saat pra tanam atau pengolahan tanah dilakukan gropyokan, sanitasi lingkungan dan pengumpanan beracun di habitatnya.
2. Tanam serentak dengan selang < 10 hari dalam areal luas (+ 300 Ha) sehingga masa generatif tanaman hampir serempak yang diharapkan pertumbuhan populasi tikus dapat dideteksi dan upaya pengendalian dapat direncanakan dengan baik.
3. Minimalisasi ukuran pematang dan tanggul disekitar persawahan sehingga mengurangi kesempatan pembuatan liang
4. Sanitasi lingkungannam persawahan (semak, rumput dan tempat persembunyian lain)
5. Pemagaran persemaian dengan plastik dan dikombinasikan dengan pemasangan perangkap bubu
6. Pada tanaman muda dilakukan pemasangan umpan beracun antikoagulan, pengemposan, sanitasi lingkungan, pemasangan pagar plastik dan dikombinasikan dengan perangkap bubu pada pertanaman yang berbatasan dengan sumber serangan
7. Pemasangan bubu yang dikombinasikan dengan pagar plastik serta tanaman perangkap. Untuk setiap + 13 ha dapat diwakili satu petak tanaman perangkap.
8. Pemanfaatan musuh alami antara lain kucing, anjing, ular sawah, burung elang dan burung hantu




HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN CABAI
Thrips
 Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabai. Hama thrips tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan bukan hanya pada tanaman cabai saja. Panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga . Gejala serangan hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Kemudian noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain sebagai hama perusak juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) pada tanaman cabai. Untuk itu, bila mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya.
 Pengendalian secara kultur teknis maupun kimiawi. Kultur teknis dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai secara bertahap sepanjang musim. Selain itu dapat menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. Pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida Winder 25 WP konsentrasi 0,25 - 0,5 gr /liter atau insektisida cair Winder 100EC konsenstrasi 0.5 - 1 cc/L.

Tungau (Mite)
 Hama mite selain menyerang jeruk dan apel juga menyerang tanaman cabai. Tungau bersifat parasit yang merusak daun, batang maupun buah sehingga dapat mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. Pada tanaman cabai. Tungau menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagian bawah menjadi berwarna kuning kemerahan, daun akan menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Tungau berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0,5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus.
 Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan Penyemprotan menggunakan Akarisida Samite 135 EC. Konsentrasi yang dianjurkan 0,25 -0,5 ml/L.

Kutu (Myzuspersicae)
 Aphids merupakan hama yang dapat merusak tanaman cabai. Serangannya hampir sama dengan tungau namun akibat cairan dari daun yang dihisapnya menyebabkan daun melengkung ke atas, keriting dan belang-belang hingga akhirnya dapat menyebabkan kerontokan. Tidak sepeti mite, kutu ini memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat karena selain dapat memperbanyak dengan perkawinan biasa, hama ini juga mampu bertelur tanpa pembuahan.
 Pengendalian hama aphids secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida Winder 100EC konsentrasi 0,5 - 1,00 cc/L.
Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)
 Kehadiran lalat buah ini, dapat menjadi hama perusak tanaman cabai. Buah cabai yang menunggu panen bisa menjadi santapannya dalam sekejap dengan cara menusukkan ovipositornya pada buah serta meletakkan telur, menetas menjadi larva yang kemudian merusak buah cabai dari dalam.
 Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan membuat perangkap dari botol bekas air mineral yang di dalamnya diberi umpan berupa Atraktan Lalat Buah (ATLABU) keluaran Balai Penelitian Obat dan Aromatik. Selain itu dapat juga digunakan perangkap kuning seperti yang dilakukan pada hama thrips. Karena umumnya serangga-serangga tersebut sangat menyukai warna-warna mencolok.
Antracnose
 Penyakit Antracnose dikenal juga dengan istilah “pathek” adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok bagi petani cabai. Buah yang menunggu panen dalam beberapa waktu berubah menjadi busuk oleh penyakit ini. Gejala awal dari serangan penyakit ini adalah bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair, buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk. Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan. Penyebab penyakit ini adalah jamur carnifora capsici.
 Pengendalian membersikan tanaman yang terserang agar tidak menyebar, saat pemilihan benih harus kita lakukan secara selektif, menanam benih cabai yang memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek. Secara kimia, disemprot dengan fungisida sistemik berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP.
Virus Kuning (gemini virus)
 Vektor virus kuning adalah whitefly atau kutu kebul (Bemisia tabaci). Telur diletakkan di bawah daun, fase telur hanya 7 hari. Nimpa bertungkai yang berfungsi untuk merangkak lama hidup 2-6 hari. Pupa berbentuk oval, agak pipih berwarna hijau keputih-putihan sampai kekuning-kuningan pupa terdapat dibawah permukaan daun, lama hidup 6 hari. Serangga dewasa berukuran kecil, berwarna putih dan mudah diamati karena dibawah permukaan daun yang bertepung, lama hidup 20-38 hari. Tanaman yang terserang penyakit virus kuning menimbulkan gejala daun mengeriting dan ukuran lebih kecil.
 Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas yang agak tahan (contoh cabai keriting Bukittinggi), menggunakan bibit yang sehat, melakukan rotasi /pergiliran tanaman, pemanfaatan tanaman border seperti tagetes atau jagung, pemasangan perangkap kuning sekaligus mengendalikan kutu kebul, serta eradikasi tanaman sakit yaitu tanaman yang menunjukkan gejala dicabut dan dibakar.

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAGUNG
PENYAKIT
1. Penyakit Bulai ( Downy Mildew )
Penyebab: cendawan Peronosclero spora maydis dan P. spora javanica serta P. spora philippinensis. yang akan merajalela pada suhu udara 27 derajat C ke atas serta keadaan udara lembab.
Gejala:
(1) pada tanaman berumur 2-3 minggu, daun runcing dan kecil, kaku dan pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih;
(2) pada tanaman berumur 3-5 minggu, tanaman yang terserang mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dan perubahan warna ini dimulai dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi;
(3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
Pengendalian :
(1) penanaman dilakukan menjelang atau awal musim penghujan;
(2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas unggul;
(3) dilakukan pencabutan tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan.

2. Penyakit Bercak Daun ( Leaf Bligh )
Penyebab:cendawan Helminthosporium turcicum.
Gejala :
pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuningkuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.
Pengendalian:
(1) pergiliran tanaman hendaknya selalu dilakukan guna menekan meluasnya cendawan;
(2) mekanis dengan mengatur kelembaban lahan agar kondisi lahan tidak lembab;
(3) kimiawi dengan pestisida antara lain: Daconil 75 WP, Difolatan 4 F.

3. Penyakit Karat ( Rust )
Penyebab :
Cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora Underw.
Gejala :
Pada tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik noda yang berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk yang berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini kemudian berkembang dan memanjang, kemudian akhirnya karat dapat berubah menjadi bermacam-macam bentuk.
Pengendalian :
(1)    mengatur kelembaban pada areal tanam;
(2)    menanam varietas unggul atau varietas yang tahan terhadap penyakit;
(3)    melakukan sanitasi pada areal pertanaman jagung;
(4)    kimiawi menggunakan pestisida seperti pada penyakit bulai dan bercak daun.

4. Penyakit Gosong Bengkak ( Corn Smut / Boil Smut )
Penyebab :
Cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC.
Gejala :
Pada tongkol ditandai dengan masuknya cendawan ini ke dalam biji sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus terdesak hingga pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari pembungkus dan spora tersebar.
Pengendalian :
(1)    mengatur kelembaban areal pertanaman jagung dengan cara pengeringan dan irigasi;
(2)    memotong bagian tanaman kemudian dibakar;
(3)    benih yang akan ditanam dicampur dengan fungisida secara merata hingga semua permukaan benih terkena.

5. Penyakit Busuk Tongkol dan Busuk Biji
 Penyebab :
Cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
Gejala :
Dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang.
Pengendalian :
(1)    menanam jagung varietas unggul, dilakukan pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih;
(2)    penyemprotan dengan fungisida setelah ditemukan gejala serangan. (av)

 

HAMA DAN PENYAKIT KEDELAI

Hama
1. Aphis spp. (Aphis glycine) 

Kutu dewasa ukuran kecil 1-1,5 mm berwarna hitam, ada yang bersayap dan tidak. Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soybean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala : layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian : (1) menanam kedelai pada waktunya, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak ditumbuhi tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) membuang bagian tanaman yang terserang hama dan membakarnya; (3) menggunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) penyemprotan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah. 

2. Melano Agromyza phaseoli; ukuran kecil sekali (1,5 mm) 
Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi batang, kemudian menjadi lalat dan bertelur. Lebih berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang. Pengendalian : (1) waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering); (2) penyemprotan Agrothion 50 EC,Sumithoin 50 EC, Suprecide 25 EC. 

3. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa) 
Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala : larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian : penyemprotan, Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC. 

Penyakit

1. Penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) 

Penyakit ini menyerang pangkal batang. Penyerangan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu. Penularan melalui tanah dan irigasi. Gejala: layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian: (1) biji yang ditanam sebaiknya dari varietas yang tahan layu dan kebersihan sekitar tanaman dijaga, pergiliran tanaman dilakukan dengan tanaman yang bukan merupakan tanaman inang penyakit tersebut. Pemberantasan: belum ada. 

2. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium rolfsii) 

Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala: daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian: (1) varietas yang ditanam sebaiknya yang tahan terhadap penyakit layu; (2) menyemprotkan Dithane M 45, dengan dosis 2 gram/liter air. 

3. Penyakit lapu (Witches Broom: Virus) 
Penyakit ini menyerang polong menjelang berisi. Penularan melalui singgungan tanam karena jarak tanam terlalu dekat. Gejala: bunga, buah dan daun mengecil. Pengendalian: menyemprotkan Tetracycline atau Tokuthion 500 EC. 


C.Faktor Sosial.
·         Padi
Padi merupakan salah satu bahan makanan primer di Indonesia, karena tidak sedikit masyarakat Indonesia yang beranggapan jika tidak makan nasi berarti belum makan. Menanam/ membudidayakan padi tidak bertolak belakangdengan norma agama dan hukum di Indonesia, dari aspek sosial padi merupakan tanaman wajib bagi orang Indonesia khususnya untuk para petani di Pedesaan.
·          Cabai
Cabai merupakan salah satu komoditi yang banyak dibutuhkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia,selain harga jual cabai yang lumayan tinggi,permintaan pasar terhadap cabai juga dari tahun ke tahun semakin meningkat.Dilihat dari fakto social tanaman cabai dapat diterima oleh masyarakat sekitar tempat penanaman cabai,dan juga penanaman cabai juga tidak melanggar norma , hukum ,dan ajaran agama.
·         Kedelai
Negara Indonesia merupakan negara agraris akan tetapi sangat ironi melihat negara raksasa agraris ini tidak berdaya menghadapi kelangkaan kedelai. Meskipun kedelai merupakan salah satu bahan baku makanan primer di Indonesia yang juga menjadi ciri khas bangsa ini, para petani masih belum dapat memenuhi permintaan pasar. Oleh karena itu pangsa pasar untuk komoditas ini masih terbuka lebar, ditinjau dari segi sosial, hukum dan budaya juga tidak ada yang berbenturan.
·         Jagung Manis
Jagung manis merupakan tanaman musiman yang cukup digemari masyarakat Indonesia khususnya para wisatawan yang berkunjung ke daerah dataran tinggi, namun belakangan ini tanaman yang mempunyai daun memanjang ini menjadi semakin akrab dengan lidah warga Indonesia di segala usia karena semakin maraknya para pelaku kuliner yang menjajakan  menu dari bahan dasar komoditas ini, selain itu kegemaran masyarakat Indonesia dalam merayakan tahun baru dengan acara bakar jagungmenjadi salah satu factor pendorong tanaman ini untuk dibudidayakan. Beberapa faktor yang menyebabkan komoditas ini dapat diterima masyarakat Indonesia yaitu tidak bertentangan dengan norma hukum, masyarakat, dan agama yang ada di Indonesia.
·         Kacang Tanah
Dengan kemampuannya mengikat nitrogen, kacang tanah menjadi salah satu tanaman yang dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga digemari para petani untuk menyuburkan tanah.Selain itu kacang tanah juga sangat akrab dengan para pemeluk agama di Indonesia terutama ketika menghadapi hari besar agama yang biasanya diramaikan dengan makan yang berbahan dasar kacang. Ditinjau dari segi hukum tentu tanaman ini tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, faktor itulah yang menyebabkan tanaman ini sangat mudah akrab dengan masyarakat Indonesia
D. Faktor Ekonomi
·         Padi
-       Dilihat dari segi permodalan:
tanaman padi dalam 1 kali masa tanam pada lahan 1 ha dibutuhkan modal sekitar Rp 5.000.000 rupiah yang sudah termasuk upah pekerja, pupuk, benih dan fasilitas untuk penunjang produksi lainnya.
-       Dilihat dari segi keuntungan:
Hasil penjualan padi per herktarnya rata-rata sebesar Rp 12.000.000, dengan mengetahui besar keuntungannya artinya tanaman padi merupakan tanaman yang menjanjikan keuntungan yang cukup besar.
-       Dilihat dari segi selera:
Nasi merupakan hasil tanak dari beras dan beras sendiri merupakan hasil panen dari padi yang tumbuh subur di wilayah Indonesia yang kita ketahui adalah negara agraris. Sehingga tidak meragukan lagi bahwa hampir seluruh Masyarakat Indonesia mengonsumsi beras hal ini dikuatkan dengan adanya data bahwa Indonesia adalah negara pengonsumsi beras nomor 3 di dunia. Bahkan karena tingginya tingkat konsumsi beras masyarakatnya menyebabkan Indonesia harus mengimpor beras dari luar negeri.
-       Dilihat dari segi nilai ekonomis:
Sebagai makanan pokok Masyarakat Indonesia membuat tingkat permintaan yang tinggi maka padi memiliki nilai ekonomis yang tinggi pula (hubungan keduanya berbanding lurus).
-       Dilihat dari segi kemampuan beli:
Di Indonesia beras adalah makanan pokok bagi masyarakatnya. Hampir seluruh Masyarakat Indonesia mengonsumsi beras yang berasal dari padi setiap harinya, jadi tidak bisa dipungkiri apabila kemampuan beli padi sangatlah tinggi. Sehingga sudah merupakan langkah yang tepat bagi petani yang menanam padi dikarenakan kemampuan masyarakat membeli padi sangatlah tinggi yang membuat petani bisa mendapatkan profit yang berbanding lurus dengan kemampuan belinya.


-       Dilihat dari segi permintaan:
Beras yang berasal dari padi merupakan makanan pokok Masyarakat Indonesia, sudah dapat dipastikan bahwa permintaan masyarakat akan padi tinggi bahkan, permintaan tidak sesuai dengan persedian yang ada, keadaan inilah yang mengharuskan Indonesia mengimpor beras dari negara lain.
·         Jagung Manis
-       Dilihat dari segi Modal:
Untuk memproduksi jagung manis pada lahan seluar ½ ha diperlukan modal sebesar Rp. 4.163.400
-       Dilihat dari segi keuntungan:
Harga jagung manis per kg nya adalah Rp 2.300,dengan lahan seluas ½ ha yang dapat menghasilkan sekitar 4.007 kg, yang memberikan keuntungan bersih kepada petani sebesar Rp 4.672.640. Jagung manis berpeluang memberikan keuntungan yang relative tinggi apabila diusahakan secara efektif dan efisien.
-       Dilihat dari segi selera masyarat:
Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa jagung ini memiliki rasa manis  yang dapat memanjakan lidah masyarakat Indonesia, ditambah lagi jagung manis ini dapat di inovasi kan menjadi kudapan yang semakin bervariatif misalnya, jagung manis dicampur dengan keju susu dan jagung manis bakar barbecue yang tentunya membuat Masyarakat Indonesia berselera untuk mengonsumsinya.

-       Dilihat dari segi nilai ekonomis:
Selain karena rasanya yang manis, sifatnya sangat mudah di konsumi dan sebagai bahan utama pangan, ternyata hampir semua bagian dari tanaman jagung manis ini memiliki nilai ekonomis. Beberapa bagian tanaman yang dapat di manfaatkan diantaranya, batang dan daun muda untuk pakan ternak, batang dan daun tua(setelah panen) untuk pupuk kompos, batang dan daun kering sebagai bahan bakar pengganti kayu bakar.
-       Dilihat dari segi kemampuan beli:
-       Pada saat ini jagung manis sudah sangat populer di kalangan Masyarakat Indonesia, di karenakan rasanya yang enak, jagung manis juga bersifat multiguna membuat tingginya kemampuan beli masyarakat akan jagung manis.
-       Dilihat dari segi permintaan:
Jagung manis merupakan salah satu komoditas pertanian yang sangat di gemari termasuk di daerah perkotaan karena rasanya yang manis, banyak mengandung kabohidrat, sedikit protein dan lemak serta bersifat ekonomis sehingga cocok untuk dikonsumsi, ini lah yang membuat tingginya permintaan masyarakat akan jagung manis terlebih di hari-hari tertentu permintaan jagung manis sangat melonjak tinggi, misalnya pada peringatan tahun baru masehi. Sehingga sudah sangat tepat bagi petani yang memproduksi jagung manis yang menjanjikan keuntungan yang relative tinggi apabila diusahakan secara efektif dan efisien.

·         Cabai
-       Dilihat dari segi modal:
Rata-rata modal yang dikeluarkan oleh petani tradisional untuk menanam cabai pada ½  hektar lahan sawah adalah di bawah Rp 2.500.000 sedangkan modal yang di keluarkan oleh petani modern berkisar antara Rp 20.000.000 sampai Rp 25.000.000 perbedaan ini desebabkan salah satunya karena  benih yang di beli oleh petani moden adalah benih impor.
-       Dilihat dari segi keuntungan :
Dilihat dari segi keuntungan komoditi cabai merupakan salah satu komoditi yang menghasilkan profit yang besar, buktinya saja pada ½ hektar lahan sawah dapat memprosuksi sekitar 16 ton cabai dengan harga per kg nya Rp 8.000. berarti keuntungan petani kotor sebesar Rp 128.000.000  dan pendapatan besihnya bisa mencapai Rp 100.000.000 sampai Rp 125.000.000, tentunya sangat mengutungkan.
-       Dilihat dari segi selera dan permintaan masyarakat terhadap cabai:
Pada saat sekarang ini lidah masyarakat khususnya di Indonesia sudah sangat familiar dengan cabai. Umumnya Masyarakat Indonesia menyukai rasa pedas sambal yang berasal dari cabai. Saat ini cabai sudah merupakan salah satu bumbu dan penyedap yang hamper selalu ada  di setiap masakan. Disini dapat terlihat bahwa selera dan permintaan masyarakat akan cabai yang tinggi.
-       Dilihat dari segi nilai ekonomis:
Nilai ekonomis komoditi cabai tinggi karena cabai  banyak di manfaatkan sebagai bumbu utama di didalam aneka masakan. Disini kelompok kami menanam cabai dengan menggunakan jerami padi sebagai pengganti mulsa plastik selain faktor efesiensi produksi  juga karena ingin memanfaatkan fasilitas yang ada.

·         Kacang Kedelai
-       Dilihat dari segi modal:
Modal yang di keluarkan oleh petani untuk menanam 1 hektar kacang kedelai adalah Rp 1.597.000.
-       Dilihat dari segi keuntungan :
Dari 1 hektar lahan sawah dapat memproduksi sebanyak 2 ton kedelai dengan harga jual per kg nya adalah Rp 2.500 maka keuntungan bersih petani adalah Rp 3.402.500
-       Dilihat dari segi selera dan permintaan masyarakat terhadap  kacang kedelai:
Kedelai sebagai sumber protein nabati yang juga sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe sudah sangat popular di kalangan Masyarakat Indonesia baik dari kalangan menengah kebawah maupun mengengah keatas menyukai tahu dan tempe yang membuat tingginya selera dan permintaan akan kacang kedelai.
-       Dilihat dari segi nilai ekonomis:
Nilai ekonomis kedelai tinggi karena kacang kedelai adalah sumber protein nabati yang menjadi bahan baku pembuatan tahu, tempe dan susu kedelai yang kita ketahui sangat di gemari hampir oleh semua orang di Indonesia yang  tentunya membuat permintaan dan nilai ekonomis kacang kedelai tinggi.
Gambar Pola Tanam
SEP     OKT     NOV    DES JAN     FEB     MAR      APR   MEI    JUN     JUL   AGS
PADI


A
D
I
100%
 
4
-
5
H
R
1
M
N
G
 

 
2
- 3
H
A
R
I
 



 
1
-
2
MINGGU
 

JAGUNG
MANIS


CABAI



 
2
-
3
H
R
2
-
3
H
R
 


      CABAI

+
KACANG
KEDELAI




 
D
I
B
E
R
A
K
A
N

           


Intensitas Penggunaan Lahan
1.       Intensitas MT1 dengan pola tanam monokultur
                   Komoditas Padi = 1 Ha   x 100 %   = 100%
                         1 Ha
               Intensitas= 100%
2.      Intensitas MT2 dengan pola tanam polikultur
                   Jagung Manis = 0,5 Ha   x 100 %   = 50 %
                                               1 Ha
                  Cabai =  0,5 Ha   x 100 %   = 50 %
                                 1 Ha
                             Intesitas MT2 = 50% + 50 % = 100%
3.      Intensitas MT3 dengan pola tanam tumpang sari
Luas lahan 1 ha,jadi untuk mendapatkan 5 baris bedengan dalam 1 ha maka 10.000 m  ,maka panjangnya 500 m dan lebarnya 20 m.Jadi,Luas Lahan = 500 m x 20m Lebar bedengan = 1,5 m dan panjang bedengan = 4,5

Banyak bedengan tiap baris (n)
n = Panjang lahan
      Luas bedengan
n = 500m   = 500 (dibulatkan menjaid 74)
    1,5 x 4,5   6,75

Satu baris dibuat 74 bedengan, namun kita menginginkan 5 baris, maka
74 x 5 = 370 bedengan/ha
           Populasi/Bedeng =  luas bedengan
                                            Jarak Tanam
           Jarak tanam cabai jika di tanam secara tumpang sari adalah 50cm x 70 cm, sedangkan untuk kedelai 10 cm.
           Populasi/Bedeng Cabai = 6,75 m = 19,28 ( diasumsikan 19 tanaman cabai setiap              
                                                    0,35 m                  bedeng)
populasi cabai dalam 1 ha = 19 x 370 bedeng = 7030 cabai
          Populasi/Bedeng kedelai   =  4,5 m  = 45          
                                                       0,1 m
populasi kedelai dalam 1 ha = 45 x 370 bedeng = 16650 kedelai
 
Intensitas =         Jumlah populasi yang digunakan                x 100%
                    Kebutuhan populasi / luas lahan yang tersedia
Keterangan :
·         Kebutuahan populasi cabai  / luas lahan yang tersedia = 8000
·         Kebutuhan populasi kedelai / luas lahan yang tersedia = 19000

I cabai = 7030   x 100% = 87,8 %
               8000

I Kedelai = 16650 x 100% = 87,6 %
                  19000

I = 87,8% + 87,6% = 175,4 %


Intensitas lahan keseluruhan = MT1 + MT2 + MT3
                                                    100% + 100% + 175,4% = 375,4 %




























BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN
Budidaya tanaman di Indonesia sangat menjanjikan karena permintaan pasar selalu ada, terutama untuk komoditas diatas. Dalam pembudidayaan para pelaku budidaya harus memperhatikan beberapa tahap antara lain : factor fisiologis, biologis, sosial, dan ekonomi. Selain itu, para pembudidaya harus memperhatikan manajemen usahatani agar proses pembudidayaan berjalan sesuai harapan.








                                                













Tugas Manajemen Agribisnis

Kelompok: 1



Description: D:\kura\foto\ipb-biru1.gif
 











Program Keahlian Manajemen Agribisnis
Program Diploma
Institut Pertanian Bogor
2013