Bab I
Pendahuluan
Latar Belakang
Memanajemen
dalam pelaksanaan kegiatan/ usaha tani di mulai dari bagaimana mengelola
sumberdaya pertanian dengan baik, mulai dari perencanaan tentang komoditi apa
saja yang akan di tanam dalam suatu lahan pertanian, melihat peluang bisnisnya.
Tidak hanya melihat dari segi faktor ekonominya saja tetapi juga melihat dari
segi faktor biologis, fisiologis,dan morfologi tanaman yang akan ditanam selain
itu , dari segi sosiologi dan agamanya apakah tanaman yang akan ditanam diterima
atau tidak di kalangan masyarakat dan tentunya tidak dilarang oleh agama. Mengolah
sumberdaya pertanian yang dimiliki dengan seefektif dan seefisien
mungkin merupakan kunci utama kemajuan usaha tani. Oleh karena itu, pada
makalah ini kelopmpok kami akan merincikan tanaman yang kami tanam dengan
melihat dari berbagai aspeknya.
BAB II
Pembahasan
A
. Faktor Fisik
·
Padi
Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O.
sativa dengan dua subspecies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia
dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo)
yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan
penggenangan. Varitas unggul nasional berasal dari Bogor: Pelita I/1, Pelita
I/2, Adil dan Makmur (dataran tinggi), Gemar, Gati, GH 19, GH 34 dan GH 120
(dataran rendah).Varitas unggul introduksi dari International Rice Research
Institute (IRRI) Filipina adalah jenis IR atau PB yaitu IR 22, IR 14, IR 46 dan
IR 54 (dataran rendah); PB32, PB 34, PB 36 dan PB 48 (dataran rendah).
Syarat Pertumbuhan
Iklim
1. Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat
LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.
2. Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000
mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim
kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim
hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang
intensif.
3. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan
temperature 22-27 derajat C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan
temperature 19-23 derajat C.
4. Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.
5. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu
kencang akan merobohkan tanaman.
Media Tanam
Media Tanam
6. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang
memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah.
7. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm.
8. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. pH
tanah yang paling sesuai untuk tanaman padi ialah 5.5 – 6.5. Pada padi sawah,
penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah
berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi.
Padi (Oryza sativa) merupakan tanaman semusim yang sangat bermanfaat
diIndonesia karena menjadi bahan makanan pokok.Tanaman ini dapat tumbuh pada
daerah mulai dari daratan rendah sampai daratan tinggi.Bila didataran tinggi
kita mengenal padi gogo,maka didataran rendah kita mengenalnya dengan padi
sawah.Umumnya padi dapat dibudidayakan sampai pada ketinggian 1.200 m dpl.
·
Jagung Manis
Tanaman jagung adalah tanaman yang memiliki tingkat fotosintesis tinggi,
jadi sangat memerlukan cahaya matahari. Maka lokasi yang baik untuk budidaya tanaman jagung adalah areal yang
terbuka berupa sawah atu ladang yang tidak terlindung dari cahaya matahari.
Lokasi untuk budidaya tanaman jagung sebaiknya tidak tergenang air, namun memiliki kadar air yang cukup. Selain itu, dalam pemilihan lokasi untuk tanaman jagung, sebaiknya harus sesuai dengan syarat tumbuh tanaman jagung, atau yang dibutuhkan oleh tanaman jagung. Syarat tumbuh dijelaskan sebagai berikut.
1. Susunan atau sifat tanah
Sebenarnya semua jenis tanah dapat ditumbuhi jagung, namun sifat tanah yang paling dikehendaki oleh tanaman jagung adalah yang drainasenya lancar, subur dengan humus dan pupuk yang mencukupi persediaan untuk tumbuh.
2. Iklim
Iklim atau cuaca rata-rata suatu daerah turut berperan serta dalam menentukan pertumbuhan dan produksi suatu tanaman. Iklim yang tidak mendukung, misalnya banyak hujan badai dan angin rebut bahkan banjir, akan berpengaruh pada pertumbuhan, termasuk pada tanaman jagung.
Walaupun tanaman jagung sangat cocok pada daerah yang beriklim sejuk dan dingin, namun jika terlalu banyak hujan juga akan mengurangi kualitas jagung.
Tanaman jagung dapat berproduksi dengan baik dan berkualitas pada daerah yang beriklim sejuk yaitu 50 derajat LU sampai 40 derajat LS dengan ketinggian sampai 3000 meter dari permukaan laut. Namun, untuk jenis-jenis jagung tertentu, dapat juga pada tempat yang berbeda dari kondisi tersebut dan dapat berproduksi dengan baik.
Lokasi untuk budidaya tanaman jagung sebaiknya tidak tergenang air, namun memiliki kadar air yang cukup. Selain itu, dalam pemilihan lokasi untuk tanaman jagung, sebaiknya harus sesuai dengan syarat tumbuh tanaman jagung, atau yang dibutuhkan oleh tanaman jagung. Syarat tumbuh dijelaskan sebagai berikut.
1. Susunan atau sifat tanah
Sebenarnya semua jenis tanah dapat ditumbuhi jagung, namun sifat tanah yang paling dikehendaki oleh tanaman jagung adalah yang drainasenya lancar, subur dengan humus dan pupuk yang mencukupi persediaan untuk tumbuh.
2. Iklim
Iklim atau cuaca rata-rata suatu daerah turut berperan serta dalam menentukan pertumbuhan dan produksi suatu tanaman. Iklim yang tidak mendukung, misalnya banyak hujan badai dan angin rebut bahkan banjir, akan berpengaruh pada pertumbuhan, termasuk pada tanaman jagung.
Walaupun tanaman jagung sangat cocok pada daerah yang beriklim sejuk dan dingin, namun jika terlalu banyak hujan juga akan mengurangi kualitas jagung.
Tanaman jagung dapat berproduksi dengan baik dan berkualitas pada daerah yang beriklim sejuk yaitu 50 derajat LU sampai 40 derajat LS dengan ketinggian sampai 3000 meter dari permukaan laut. Namun, untuk jenis-jenis jagung tertentu, dapat juga pada tempat yang berbeda dari kondisi tersebut dan dapat berproduksi dengan baik.
3. Derajat keasaman tanah (pH)
Derajat keasaman tanah dipengaruhi oleh banyaknya kandungan unsure kimia dalam tanah serta kadar air dalam tanah tersebut. Daerah yang cenderung basah dan banyak humus akan menyebabkan tanahnya cenderung bersifat asam.
Sebaliknya tanah yang kering berkapur dengan kadar air yang sedikit akan lebih bersifat basa. Untuk tanaman jagung sebenarnya toleransi atau kemampuan untuk beradaptasi pada lingkungan cukup baik, yaitu dengan kemampuan hidup maksimal pada derajat keasaman antara 5,5 sampai 7.
Derajat keasaman ada skala 14 skala, untuk skala 1 sampai 7 bersifat asam, sedangkan antara 8 sampai 14 bersifat basa.
4. Kadar air
Jumlah air yang ada dalam tanah akan menentukan kadar air tanah. Tanaman jagung memerlukan air terutama untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan. Jadi penanaman jagung pun banyak diawali pada saat musim hujan mulai tiba. Selain menghemat tenaga untuk menyiram juga menambah sejuk/menambah kelembaban udara. Sehingga tanaman tidak kekurangan air, karena dapat mengganggu proses fotosintesis atau penyusunan makanan yang dilakukan untuk beraktifitas dan berproduksi dari tanaman jagung tersebut.
5. Intensitas cahaya matahari
Intensitas cahaya adalah jumlah pancaran cahaya matahari yang intesif dan dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup. Untuk tanaman jagung, intensitas cahaya yang banyak dan cukup sangat dibutuhkan selain untuk berfotosintesis, juga untuk berproduksi, karena tanpa intensitas cahaya yang cukup, bunga tidak dapat berhasil menjadi buah.
6. Suhu lingkungan
Suhu adalah tingkat derajat panas suatu benda yang ada dalam lingkungan. Lingkungan tempat hidup jagung sangat perlu untuk diperhatikan, karena suhu yang tinggi dan kering akan mengganggu kelangsungan proses penyusunan makanan atau fotosintesis pada tanaman jagung.
Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah antara 21 sampai 30 derajat celcius. Sedangkan untuk proses perkecambahan jagung, yang paling tepat adalh antara suhu 21 sampai 27 derajat celcius. Jadi, sedikit lebih membutuhkan suhu yang lebih sejuk untuk pertumbuhan kecambahnya.
Pada umumnya tanaman njagung ditanam pada lahan yang kering dengan cara multikultur, artinya ditanam bersama dengan beberapa jenis tanaman yang lain. Namun, penanaman jagung pada lahan kering ini tidaklah mutlak, sebab ternyata tanaman jagung juga dapat tumbuh pada lahan basah yang terdapat pengairan serta sawah tadah hujan, secara monokultur yaitu menanami lahan hanya dengan satu jenis tanaman.
Derajat keasaman tanah dipengaruhi oleh banyaknya kandungan unsure kimia dalam tanah serta kadar air dalam tanah tersebut. Daerah yang cenderung basah dan banyak humus akan menyebabkan tanahnya cenderung bersifat asam.
Sebaliknya tanah yang kering berkapur dengan kadar air yang sedikit akan lebih bersifat basa. Untuk tanaman jagung sebenarnya toleransi atau kemampuan untuk beradaptasi pada lingkungan cukup baik, yaitu dengan kemampuan hidup maksimal pada derajat keasaman antara 5,5 sampai 7.
Derajat keasaman ada skala 14 skala, untuk skala 1 sampai 7 bersifat asam, sedangkan antara 8 sampai 14 bersifat basa.
4. Kadar air
Jumlah air yang ada dalam tanah akan menentukan kadar air tanah. Tanaman jagung memerlukan air terutama untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan. Jadi penanaman jagung pun banyak diawali pada saat musim hujan mulai tiba. Selain menghemat tenaga untuk menyiram juga menambah sejuk/menambah kelembaban udara. Sehingga tanaman tidak kekurangan air, karena dapat mengganggu proses fotosintesis atau penyusunan makanan yang dilakukan untuk beraktifitas dan berproduksi dari tanaman jagung tersebut.
5. Intensitas cahaya matahari
Intensitas cahaya adalah jumlah pancaran cahaya matahari yang intesif dan dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup. Untuk tanaman jagung, intensitas cahaya yang banyak dan cukup sangat dibutuhkan selain untuk berfotosintesis, juga untuk berproduksi, karena tanpa intensitas cahaya yang cukup, bunga tidak dapat berhasil menjadi buah.
6. Suhu lingkungan
Suhu adalah tingkat derajat panas suatu benda yang ada dalam lingkungan. Lingkungan tempat hidup jagung sangat perlu untuk diperhatikan, karena suhu yang tinggi dan kering akan mengganggu kelangsungan proses penyusunan makanan atau fotosintesis pada tanaman jagung.
Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah antara 21 sampai 30 derajat celcius. Sedangkan untuk proses perkecambahan jagung, yang paling tepat adalh antara suhu 21 sampai 27 derajat celcius. Jadi, sedikit lebih membutuhkan suhu yang lebih sejuk untuk pertumbuhan kecambahnya.
Pada umumnya tanaman njagung ditanam pada lahan yang kering dengan cara multikultur, artinya ditanam bersama dengan beberapa jenis tanaman yang lain. Namun, penanaman jagung pada lahan kering ini tidaklah mutlak, sebab ternyata tanaman jagung juga dapat tumbuh pada lahan basah yang terdapat pengairan serta sawah tadah hujan, secara monokultur yaitu menanami lahan hanya dengan satu jenis tanaman.
·
Cabai
Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.
PT. Natural Nusantara (NASA) berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (K-3), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.
FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.
PT. Natural Nusantara (NASA) berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (K-3), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.
FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
·
Tebarkan
pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2.
·
Diluku
kemudian digaru (biarkan + 1 minggu).
·
Diberi
Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2.
·
Dibuat
bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm.
·
Siramkan
SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt). Supernasa : 1 botol dilarutkan dalam 3 liter
air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk. Atau
1 gembor (+ 10 liter) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA dan
siramkan ke bedengan + 5-10 m.
·
POC
NASA : 1 gembor (+ 10 liter) diberi 2-4 tutup POC NASA dan siramkan
ke bedengan sepanjang + 5 - 10 meter.
·
Campurkan
GLIO 100 - 200 gr ( 1 - 2 bungkus ) dengan 50 - 100 kg pupuk kandang, biarkan 1
minggu dan sebarkan ke bedengan.
·
Bedengan
ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag (
biarkan + 1 - 2 minggu ).
2. Benih
·
Kebutuhan
per 1000 m2 1 - 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30.
·
Biji
direndam dengan POC NASA dosis 0,5 - 1 tutup / liter air hangat kemudian
diperam semalam.
FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
1. Persiapan Persemaian
·
Arah
persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
·
Media
tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring,
perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr
dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan
polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.
2. Penyemaian
·
Biji
cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk
kandang matang yang telah disaring.
·
Semprot
POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS.
·
Penyiraman
dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban.
FASE TANAM
1. Pemilihan Bibit
1. Pemilihan Bibit
·
Pilih
bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus.
·
Bibit
memiliki 5-6 helai daun (umur 21 - 30 hari).
2. Cara Tanam
·
Waktu
tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.
·
Plastik
polibag dilepas.
·
Setelah
penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/
tangki.
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah untuk budidaya kedelai sangat penting, karena kedelai harus berkecambah dengan semppurna supaya dpat berkembang dengan maksimal, selain itu benih juga memerlukan kelembapan dan oksigen yang cukup.
Kondisi lahan yang akan
ditanami:
1. Tanah tegalan
Pengolahan tanah pada tegalan dilakukan dengan cara dibajak, digaru dan diratakan. Sisa-sisa gulma dibuang, dan pelaksanaannya dilakukan pada akhir musim kemarau karena pada awal musim hujan benih ahrus segera ditanam.
Untuk penanaman kedua tanah tidak usah diolah lagi. Dan jangan lupa membuat bedengan atau kalenan-kalenan seperlunya.
2. Permukaan lereng
Pengolahan dilakukan dengan cara terasering agar erosi pada permukaan tanah dapat diperkecil.
3. Lahan sawah
Tanah diolah dengan cukup untuk membuat jerami padi sampai kepermukaan tanah, kemudian jerami disingkirkan. Buat lubang dengan tugal pada petakan dengan lebar 3 m – 10 m, panjang disesuaikan dengan kondisi lahan.
Diantara petakan dibuat saluran drainase selebar 25-30 cm, dengan kedalaman 30 cm, diamkan selama 7-10 hari untuk menutupi bibit yang telah ditebar atau dimasukan ke dalam tanah yang ditugal.
Pemilihan
Bibit
Benih yang baik untuk budidaya kedelai ialah benih yang sudah cukup tua, utuh, dan warnanya mengkilat. Bibit dibutuhkan sebanyak 50-75 kg untuk 1 ha, bibit bisa didapat dari took-toko yang menyediakan bibit ataupun denga bibit hasil pertanian sendiri.
Untuk mendapatkan hasil budidaya yang maksimal maka pemilihan bibit pun harus yang berkualitas. Syarat-syarat bibit unggul:
1. Benih dipanen setelah buah matang
2. Diambil dari tanaman yang sehat
3. Produksi tinggi
4. Pertumbuhan tanam seragam
5. Bersih dari kotoran, hama, penyakit dan gulma
6. Tidak keriput, tidak luka, dan mengkilat
7. Harus kering benar
8. Sudah harus ditanam paling lambat 8 bulan sejak dipanen
9. Disimpan dalam kelembapan < 60%
Ada dua cara untuk mengadakan pembibitan yaitu, bibit disimpan dalam bentuk biji dan bibit disimpan dalam bentuk buah.
Bibit yang disimppan dalam bentuk biji, caranya tanaman yang sudah kelihatan tua yang buahnya banyak, batangnya besar, buahnya tidak mudah pecah dan bebas penyakit lalu kita petik.
Kemudian ditampi. Pilih biji yang besar, mulus dan tidak keriput, kemudian dijemur lagi hingga kering. Campurkan debu sedikit minyak tanah. Masukan ke dalam kaleng dan tutup rapt-rapat.
Bibit yang disimpan dalam bentuk buah caranya, tanaman di cabut dan dijemur sampai benar-benar kering. Ikat dan gantungkan di atas tungku api. Menjelang tanam, yaitu 3-4 hari sebelum tanam ikatan dipukul-pukul agar biji lepas kemudian dipilih biji yang baik dan dijemur.
Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan alat tugal, lubang dibuat sedalam 3-4 cm. jarak tanam tergantung dari kesuburan tanah, dan ketersedian air maupun varietas yang ditanam. Dapat menggunakan ukuran 20 x 40 cm, 25 x25 cm, 30 x 15 cm atau 30 x 30 cm.
Cara Penanaman
Cara penanaman kedelai ada dua cara, dengan cara ditebar dan dengan cara ditugalkan. Penanaman dengan cara ditebarkan akan memperoleh tumbuhan yang tumbuh tidak merata, bibit yang dibutuhkan lebih banyak, namun waktu dan tenaga yang digunakan lebih singkat.
Penanaman dengan cara ditugal memerlukan 3 orang, 1 oorang untuk membuat lubang, 1 orang memasukan benih, dan 1 orang lagi memasukan pupuk dasar dan menutup lubang.
Apabila penanaman dilakukan pada lahan yang tidak pernah ditanami kedelai, maka benih dicampur dengan bakteri rhizobium. Caranya sama seperti yang dijelaskan pada pembahasan budidaya kacang hijau, yaitu dicampur dengan legin.
Setiap 5-10 gram dibatasi sedikit air, kemudian dicampur dengan benih 1 kg. jika legin tidak ada, benih bisa diberi tanah yang sudah sering ditanami kedelai (kacang-kacangan). Setiap 1 kg benih dicampur dengan 100-250 gram tanah. Kemudian diangin-anginkan, lalu ditanam tiap lubang 2-3 butir benih.
Tahap Pemeliharaan Tanaman
1. Pengairan
Pengairan dapat dilakukan dengan menggenangi saluran drainase selama 15-30 menit. Tanah jangan terlalu becek ataupun kekeringan. Saat perkecambahan umur 0-5 hari, 15-20 hari, masa pembungaan dan pembentukan biji (35-65 hari), sangat memerlukan air. Sedangkan saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.
2. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 kali, yaitu, sebelum dilakukan penanaman atau saat tanam, dan pupuk susulan.
Dosis pupuk yang diberikan pada tanaman kedelai yaitu, TSP 75 kg – 200 kg/ha, KCl 50 – 100 kg/ha, dan Urea 50 kg/ha. Sedangkan untuk pupuk susulan yaitu urea 50 kg/h, pupuk susulan diberikan ketika tanaman berumur 20-30 hari setelah tanam. Pupuk diberikan didalam larikan di antara barisan tanaman kedelai kemudian ditutup tanah.
3. Penyulaman dan penyiangan
Penyulaman dilakukan seminggu setelah benih ditanam, hal ini dilakukan untuk mengganti apabila ada tanaman yang mati.
Kegiatan penyiangan pertama dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Sedangkan penyiangan kedua dilakukan setelah tanaman berbunga. Penyiangan dilakukan untuk untuk membersihkan gulma dan penggemburan tanah dapat dilakukan pada saat penyiangan.
B. Faktor Biologis
HAMA TANAMAN PADI
Tikus
sawah ( Rattus argentiventer Rob & Kloss )
Bioekologi
:
Bagian
punggung berwarna coklat muda berbecak hitam, perut dan dada putih. Panjang kepala dengan badan 130-210 mm, ekor 120- 200mm,
dan tungkai 34-43 mm. Jumlah putting susu tikus betina 12 buah, 3 pasang di
dada dan 3 pasang di perut.
Kepadatan populasi tikus berkaitan dengan fase
pertumbuhan tanaman padi. Serangan tikus dapat terjadi sejak di pesemaian,
pertanaman sampai pasca panen. Pada pesemaian sampai tanaman fase vegetatif ,
populasi tikus umumnya masih rendah dan kepadatan populasi meningkat pada fase
generatif.
Di lahan yang ditanami padi secara terus menerus ( 2
kali/tahun) puncak populasi akan terjadi 2 kali , yaitu pada saat tanaman fase
generatif. Di lahan yang ditanami padi 1 kali/tahun , puncak populasi hanya
terjadi 1 kali, yaitu fase generatif.
Pada saat tanaman fase generatif, kebutuhan gizi
tikus jantan belum terpenuhi, untuk membuahi tikus betina. Perkembangbiakannya
mulai terjadi saat primordial dan terus berlangsung sampai fase generatif.
Tikus jantan siap kawin pada umur 60 hari, sedangkan tikus betina siap kawin
pada umur 8 hari. Masa bunting berlangsung selama 19-23 hari. Dua hari setelah
melahirkan, tikus betina mampu kawin lagi.
Jumlah anak berkisar 2-18 ekor/induk/kelahiran :
- kelahiran I : 6-18 ekor/induk.
- kelahiran II s/d VI : 6 – 8 ekor/induk.
- kelahiran VII, dst : 2-6 ekor/induk.
Secara teoritis dari 1 pasang tikus dapat menjadi ± 2.000
ekor dalam waktu 1 tahun.
Pada saat tanaman fase vegetatif, tikus hidup soliter dan
di luar liang, sedang pada fase generatif, tikus hidup berpasang-pasangan dan
tinggal di dalam liang.
Pada saat tanaman fase vegetatif, kontruksi liang dangkal
dan tidak bercabang-cabang. Setelah fase generatif , liang dibuat lebih dalam,
lebih panjang, bercabang-cabang dan mempunyai pintu lebih dari satu. Persawahan
dengan pematang yang sempit ( lebar < 30 cm), hanya sedikit digunakan
sebagai tempat liang.
Luas wilayah dan jarak jelajah harian tikus dipengaruhi
jumlah sumber pakan da populasi tikus. Bila sumber pakan berlimpah ( fase
generatif tanaman ), jelajah hariannya pendek ( 50-125 m ) dan bila sumber
pakan sedikit ( fase pengolahan tanah sampai dengan akhir vegetatif) jelajah
harian panjang ( 100- 200 m ). Migrasi tikus mencapai 1-2 km. Tetapi bila daya
dukung wilayah menjamin, tikus tidak akan bermigrasi.
Untuk
kelangsungan hidupnya, tikus memerlukan pakan, air dan tempat persembunyian.
Keberadaan tikus di lapang dapat diketahui dengan cara pengumpanan tanpa racun
yang dipasang minimal sebanyak 20 titik umpan/ha atau pengamatan jejak dan
jalan lintas tikus.
TEKNIK
PENGENDALIAN.
Pengendalian
tikus harus sudah dilaksanakan pada saat tanaman padi di persemaian sampai
anakan maksimum dengan teknik pengendalian sebagai berikut :
1. Pada
saat pra tanam atau pengolahan tanah dilakukan gropyokan, sanitasi lingkungan
dan pengumpanan beracun di habitatnya.
2. Tanam
serentak dengan selang < 10 hari dalam areal luas (+ 300 Ha)
sehingga masa generatif tanaman hampir serempak yang diharapkan pertumbuhan
populasi tikus dapat dideteksi dan upaya pengendalian dapat direncanakan dengan
baik.
3. Minimalisasi
ukuran pematang dan tanggul disekitar persawahan sehingga mengurangi kesempatan
pembuatan liang
4. Sanitasi lingkungannam
persawahan (semak, rumput dan tempat persembunyian lain)
5. Pemagaran persemaian dengan
plastik dan dikombinasikan dengan pemasangan perangkap bubu
6. Pada tanaman muda dilakukan
pemasangan umpan beracun antikoagulan, pengemposan, sanitasi lingkungan,
pemasangan pagar plastik dan dikombinasikan dengan perangkap bubu pada
pertanaman yang berbatasan dengan sumber serangan
7. Pemasangan bubu yang dikombinasikan dengan pagar plastik
serta tanaman perangkap. Untuk setiap + 13 ha dapat diwakili satu
petak tanaman perangkap.
8. Pemanfaatan
musuh alami antara lain kucing, anjing, ular sawah, burung elang dan burung
hantu
HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN CABAI
Thrips
Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing
lagi bagi para petani cabai. Hama thrips tergolong sebagai pemangsa segala
jenis tanaman, jadi serangan bukan hanya pada tanaman cabai saja. Panjang tubuh
sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat
dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga .
Gejala serangan hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna
keperakan. Noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan
hama thrips. Kemudian noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda.
Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain sebagai hama perusak juga
sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) pada tanaman cabai.
Untuk itu, bila mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari
serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang
dibawanya.
Pengendalian secara kultur teknis maupun
kimiawi. Kultur teknis dengan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabai
secara bertahap sepanjang musim. Selain itu dapat menggunakan perangkap kuning
yang dilapisi lem. Pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida
Winder 25 WP konsentrasi 0,25 - 0,5 gr /liter atau insektisida cair Winder
100EC konsenstrasi 0.5 - 1 cc/L.
Tungau (Mite)
Hama mite selain menyerang jeruk dan apel juga
menyerang tanaman cabai. Tungau bersifat parasit yang merusak daun, batang
maupun buah sehingga dapat mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. Pada
tanaman cabai. Tungau menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada
bagian bawah menjadi berwarna kuning kemerahan, daun akan menggulung ke bawah
dan akibatnya pucuk mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Tungau
berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0,5 mm, berkulit lunak
dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama ini juga berpotensi sebagai
pembawa virus.
Pengendalian secara kimia dapat dilakukan
dengan Penyemprotan menggunakan Akarisida Samite 135 EC. Konsentrasi yang
dianjurkan 0,25 -0,5 ml/L.
Kutu (Myzuspersicae)
Aphids merupakan hama yang dapat merusak
tanaman cabai. Serangannya hampir sama dengan tungau namun akibat cairan dari
daun yang dihisapnya menyebabkan daun melengkung ke atas, keriting dan
belang-belang hingga akhirnya dapat menyebabkan kerontokan. Tidak sepeti mite,
kutu ini memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat karena selain dapat
memperbanyak dengan perkawinan biasa, hama ini juga mampu bertelur tanpa
pembuahan.
Pengendalian hama aphids secara kimia dapat
dilakukan dengan menyemprot insektisida Winder 100EC konsentrasi 0,5 - 1,00
cc/L.
Lalat Buah (Bactrocera dorsalis)
Kehadiran lalat buah ini, dapat menjadi hama
perusak tanaman cabai. Buah cabai yang menunggu panen bisa menjadi santapannya
dalam sekejap dengan cara menusukkan ovipositornya pada buah serta meletakkan
telur, menetas menjadi larva yang kemudian merusak buah cabai dari dalam.
Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan
dengan membuat perangkap dari botol bekas air mineral yang di dalamnya diberi
umpan berupa Atraktan Lalat Buah (ATLABU) keluaran Balai Penelitian Obat dan
Aromatik. Selain itu dapat juga digunakan perangkap kuning seperti yang dilakukan
pada hama thrips. Karena umumnya serangga-serangga tersebut sangat menyukai
warna-warna mencolok.
Antracnose
Penyakit Antracnose dikenal juga dengan
istilah “pathek” adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok bagi
petani cabai. Buah yang menunggu panen dalam beberapa waktu berubah menjadi
busuk oleh penyakit ini. Gejala awal dari serangan penyakit ini adalah bercak
yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair, buah akan berubah menjadi
coklat kehitaman dan membusuk. Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim
hujan. Penyebab penyakit ini adalah jamur carnifora capsici.
Pengendalian membersikan tanaman yang
terserang agar tidak menyebar, saat pemilihan benih harus kita lakukan secara
selektif, menanam benih cabai yang memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek.
Secara kimia, disemprot dengan fungisida sistemik berbahan aktif triadianefon
dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti
Kocide 54WDG, atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP.
Virus Kuning (gemini virus)
Vektor virus kuning adalah whitefly atau kutu
kebul (Bemisia tabaci). Telur diletakkan di bawah daun, fase telur hanya 7
hari. Nimpa bertungkai yang berfungsi untuk merangkak lama hidup 2-6 hari. Pupa
berbentuk oval, agak pipih berwarna hijau keputih-putihan sampai
kekuning-kuningan pupa terdapat dibawah permukaan daun, lama hidup 6 hari.
Serangga dewasa berukuran kecil, berwarna putih dan mudah diamati karena
dibawah permukaan daun yang bertepung, lama hidup 20-38 hari. Tanaman yang
terserang penyakit virus kuning menimbulkan gejala daun mengeriting dan ukuran
lebih kecil.
Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas
yang agak tahan (contoh cabai keriting Bukittinggi), menggunakan bibit yang
sehat, melakukan rotasi /pergiliran tanaman, pemanfaatan tanaman border seperti
tagetes atau jagung, pemasangan perangkap kuning sekaligus mengendalikan kutu
kebul, serta eradikasi tanaman sakit yaitu tanaman yang menunjukkan gejala
dicabut dan dibakar.
HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN JAGUNG
PENYAKIT
1. Penyakit Bulai ( Downy Mildew
)
Penyebab:
cendawan Peronosclero spora maydis dan P. spora javanica serta P. spora
philippinensis. yang akan merajalela pada suhu udara 27 derajat C ke atas serta
keadaan udara lembab.
Gejala:
(1) pada
tanaman berumur 2-3 minggu, daun runcing dan kecil, kaku dan pertumbuhan batang
terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan
warna putih;
(2) pada
tanaman berumur 3-5 minggu, tanaman yang terserang mengalami gangguan
pertumbuhan, daun berubah warna dan perubahan warna ini dimulai dari bagian
pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi;
(3) pada
tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
Pengendalian
:
(1)
penanaman dilakukan menjelang atau awal musim penghujan;
(2) pola
tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas unggul;
(3)
dilakukan pencabutan tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan.
2. Penyakit Bercak Daun ( Leaf
Bligh )
Penyebab:cendawan
Helminthosporium turcicum.
Gejala :
pada
daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna
coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun,
semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat
kekuningkuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh
permukaan daun berwarna coklat.
Pengendalian:
(1)
pergiliran tanaman hendaknya selalu dilakukan guna menekan meluasnya cendawan;
(2)
mekanis dengan mengatur kelembaban lahan agar kondisi lahan tidak lembab;
(3)
kimiawi dengan pestisida antara lain: Daconil 75 WP, Difolatan 4 F.
3. Penyakit Karat ( Rust )
Penyebab
:
Cendawan
Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora Underw.
Gejala :
Pada
tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik noda yang
berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk yang berwarna
kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini kemudian berkembang dan memanjang,
kemudian akhirnya karat dapat berubah menjadi bermacam-macam bentuk.
Pengendalian
:
(1) mengatur kelembaban pada areal tanam;
(2) menanam varietas unggul atau varietas yang
tahan terhadap penyakit;
(3) melakukan sanitasi pada areal pertanaman
jagung;
(4) kimiawi menggunakan pestisida seperti pada
penyakit bulai dan bercak daun.
4. Penyakit Gosong Bengkak ( Corn
Smut / Boil Smut )
Penyebab
:
Cendawan
Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo
maydis DC.
Gejala :
Pada
tongkol ditandai dengan masuknya cendawan ini ke dalam biji sehingga terjadi
pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan
pembungkus terdesak hingga pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari pembungkus
dan spora tersebar.
Pengendalian
:
(1) mengatur kelembaban areal pertanaman jagung
dengan cara pengeringan dan irigasi;
(2) memotong bagian tanaman kemudian dibakar;
(3) benih yang akan ditanam dicampur dengan
fungisida secara merata hingga semua permukaan benih terkena.
5. Penyakit Busuk Tongkol dan
Busuk Biji
Penyebab :
Cendawan
Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella
fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
Gejala :
Dapat
diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah
jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang.
Pengendalian
:
(1) menanam jagung varietas unggul, dilakukan
pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih;
(2) penyemprotan dengan fungisida setelah
ditemukan gejala serangan. (av)
HAMA DAN PENYAKIT KEDELAI
Hama
1. Aphis spp. (Aphis glycine)
Kutu dewasa ukuran kecil 1-1,5 mm berwarna
hitam, ada yang bersayap dan tidak. Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV
(Soybean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan
bunga dan polong. Gejala : layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian : (1)
menanam kedelai pada waktunya, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi
syarat, tidak ditumbuhi tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan
atau kacang-kacangan; (2) membuang bagian tanaman yang terserang hama dan
membakarnya; (3) menggunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4)
penyemprotan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan
bawah.
2. Melano Agromyza phaseoli; ukuran kecil
sekali (1,5 mm)
Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk
ke dalam batang memakan isi batang, kemudian menjadi lalat dan bertelur. Lebih
berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang. Pengendalian : (1) waktu tanam
pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering); (2)
penyemprotan Agrothion 50 EC,Sumithoin 50 EC, Suprecide 25 EC.
3. Kumbang daun tembukur (Phaedonia
inclusa)
Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning.
Bertelur pada permukaan daun. Gejala : larva dan kumbang memakan daun, bunga,
pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian : penyemprotan,
Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC.
Penyakit
1. Penyakit layu bakteri (Pseudomonas
solanacearum)
Penyakit ini menyerang pangkal batang.
Penyerangan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu. Penularan melalui tanah dan
irigasi. Gejala: layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam
rapat. Pengendalian: (1) biji yang ditanam sebaiknya dari varietas yang tahan
layu dan kebersihan sekitar tanaman dijaga, pergiliran tanaman dilakukan dengan
tanaman yang bukan merupakan tanaman inang penyakit tersebut. Pemberantasan:
belum ada.
2. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium
rolfsii)
Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3
minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala: daun
sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi.
Pengendalian: (1) varietas yang ditanam sebaiknya yang tahan terhadap penyakit
layu; (2) menyemprotkan Dithane M 45, dengan dosis 2 gram/liter air.
3. Penyakit lapu (Witches Broom:
Virus)
Penyakit ini menyerang polong menjelang
berisi. Penularan melalui singgungan tanam karena jarak tanam terlalu dekat.
Gejala: bunga, buah dan daun mengecil. Pengendalian: menyemprotkan Tetracycline
atau Tokuthion 500 EC.
C.Faktor
Sosial.
·
Padi
Padi
merupakan salah satu bahan makanan primer di Indonesia, karena tidak sedikit
masyarakat Indonesia yang beranggapan jika tidak makan nasi berarti belum
makan. Menanam/ membudidayakan padi tidak bertolak belakangdengan norma agama
dan hukum di Indonesia, dari aspek sosial padi merupakan tanaman wajib bagi
orang Indonesia khususnya untuk para petani di Pedesaan.
·
Cabai
Cabai
merupakan salah satu komoditi yang banyak dibutuhkan dan dikonsumsi oleh
masyarakat Indonesia,selain harga jual cabai yang lumayan tinggi,permintaan
pasar terhadap cabai juga dari tahun ke tahun semakin meningkat.Dilihat dari
fakto social tanaman cabai dapat diterima oleh masyarakat sekitar tempat
penanaman cabai,dan juga penanaman cabai juga tidak melanggar norma , hukum
,dan ajaran agama.
·
Kedelai
Negara
Indonesia merupakan negara agraris akan tetapi sangat ironi melihat negara
raksasa agraris ini tidak berdaya menghadapi kelangkaan kedelai. Meskipun
kedelai merupakan salah satu bahan baku makanan primer di Indonesia yang juga
menjadi ciri khas bangsa ini, para petani masih belum dapat memenuhi permintaan
pasar. Oleh karena itu pangsa pasar untuk komoditas ini masih terbuka lebar,
ditinjau dari segi sosial, hukum dan budaya juga tidak ada yang berbenturan.
·
Jagung
Manis
Jagung
manis merupakan tanaman musiman yang cukup digemari masyarakat Indonesia
khususnya para wisatawan yang berkunjung ke daerah dataran tinggi, namun
belakangan ini tanaman yang mempunyai daun memanjang ini menjadi semakin akrab
dengan lidah warga Indonesia di segala usia karena semakin maraknya para pelaku
kuliner yang menjajakan menu dari bahan
dasar komoditas ini, selain itu kegemaran masyarakat Indonesia dalam merayakan
tahun baru dengan acara bakar jagungmenjadi salah satu factor pendorong tanaman
ini untuk dibudidayakan. Beberapa faktor yang menyebabkan komoditas ini dapat
diterima masyarakat Indonesia yaitu tidak bertentangan dengan norma hukum,
masyarakat, dan agama yang ada di Indonesia.
·
Kacang
Tanah
Dengan kemampuannya mengikat
nitrogen, kacang tanah menjadi salah satu tanaman yang dapat meningkatkan
kesuburan tanah sehingga digemari para petani untuk menyuburkan tanah.Selain
itu kacang tanah juga sangat akrab dengan para pemeluk agama di Indonesia
terutama ketika menghadapi hari besar agama yang biasanya diramaikan dengan
makan yang berbahan dasar kacang. Ditinjau dari segi hukum tentu tanaman ini
tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, faktor
itulah yang menyebabkan tanaman ini sangat mudah akrab dengan masyarakat
Indonesia
D.
Faktor Ekonomi
·
Padi
-
Dilihat
dari segi permodalan:
tanaman padi dalam 1 kali masa
tanam pada lahan 1 ha dibutuhkan modal sekitar Rp 5.000.000 rupiah yang sudah
termasuk upah pekerja, pupuk, benih dan fasilitas untuk penunjang produksi
lainnya.
-
Dilihat
dari segi keuntungan:
Hasil penjualan padi per
herktarnya rata-rata sebesar Rp 12.000.000, dengan mengetahui besar
keuntungannya artinya tanaman padi merupakan tanaman yang menjanjikan
keuntungan yang cukup besar.
-
Dilihat
dari segi selera:
Nasi merupakan hasil tanak dari
beras dan beras sendiri merupakan hasil panen dari padi yang tumbuh subur di
wilayah Indonesia yang kita ketahui adalah negara agraris. Sehingga tidak
meragukan lagi bahwa hampir seluruh Masyarakat Indonesia mengonsumsi beras hal
ini dikuatkan dengan adanya data bahwa Indonesia adalah negara pengonsumsi
beras nomor 3 di dunia. Bahkan karena tingginya tingkat konsumsi beras
masyarakatnya menyebabkan Indonesia harus mengimpor beras dari luar negeri.
-
Dilihat
dari segi nilai ekonomis:
Sebagai makanan pokok Masyarakat
Indonesia membuat tingkat permintaan yang tinggi maka padi memiliki nilai
ekonomis yang tinggi pula (hubungan keduanya berbanding lurus).
-
Dilihat
dari segi kemampuan beli:
Di Indonesia beras adalah makanan
pokok bagi masyarakatnya. Hampir seluruh Masyarakat Indonesia mengonsumsi beras
yang berasal dari padi setiap harinya, jadi tidak bisa dipungkiri apabila
kemampuan beli padi sangatlah tinggi. Sehingga sudah merupakan langkah yang
tepat bagi petani yang menanam padi dikarenakan kemampuan masyarakat membeli
padi sangatlah tinggi yang membuat petani bisa mendapatkan profit yang
berbanding lurus dengan kemampuan belinya.
-
Dilihat
dari segi permintaan:
Beras yang berasal dari padi
merupakan makanan pokok Masyarakat Indonesia, sudah dapat dipastikan bahwa
permintaan masyarakat akan padi tinggi bahkan, permintaan tidak sesuai dengan
persedian yang ada, keadaan inilah yang mengharuskan Indonesia mengimpor beras
dari negara lain.
·
Jagung
Manis
-
Dilihat
dari segi Modal:
Untuk
memproduksi jagung manis pada lahan seluar ½ ha diperlukan modal sebesar Rp.
4.163.400
-
Dilihat dari segi keuntungan:
Harga
jagung manis per kg nya adalah Rp 2.300,dengan lahan seluas ½ ha yang dapat
menghasilkan sekitar 4.007 kg, yang memberikan keuntungan bersih kepada petani
sebesar Rp 4.672.640. Jagung manis berpeluang memberikan keuntungan yang
relative tinggi apabila diusahakan secara efektif dan efisien.
-
Dilihat dari segi selera masyarat:
Dari
namanya saja kita sudah tahu bahwa jagung ini memiliki rasa manis yang dapat memanjakan lidah masyarakat
Indonesia, ditambah lagi jagung manis ini dapat di inovasi kan menjadi kudapan
yang semakin bervariatif misalnya, jagung manis dicampur dengan keju susu dan
jagung manis bakar barbecue yang
tentunya membuat Masyarakat Indonesia berselera untuk mengonsumsinya.
-
Dilihat dari segi nilai ekonomis:
Selain karena rasanya yang manis, sifatnya sangat mudah di konsumi dan
sebagai bahan utama pangan, ternyata hampir semua bagian dari tanaman jagung
manis ini memiliki nilai ekonomis. Beberapa bagian tanaman yang dapat di
manfaatkan diantaranya, batang dan daun muda untuk pakan ternak, batang dan
daun tua(setelah panen) untuk pupuk kompos, batang dan daun kering sebagai
bahan bakar pengganti kayu bakar.
-
Dilihat
dari segi kemampuan beli:
-
Pada
saat ini jagung manis sudah sangat populer di kalangan Masyarakat Indonesia, di
karenakan rasanya yang enak, jagung manis juga bersifat multiguna membuat
tingginya kemampuan beli masyarakat akan jagung manis.
-
Dilihat
dari segi permintaan:
Jagung manis merupakan salah satu komoditas pertanian yang sangat di
gemari termasuk di daerah perkotaan karena rasanya yang manis, banyak
mengandung kabohidrat, sedikit protein dan lemak serta bersifat ekonomis
sehingga cocok untuk dikonsumsi, ini lah yang membuat tingginya permintaan
masyarakat akan jagung manis terlebih di hari-hari tertentu permintaan jagung
manis sangat melonjak tinggi, misalnya pada peringatan tahun baru masehi.
Sehingga sudah sangat tepat bagi petani yang memproduksi jagung manis yang
menjanjikan keuntungan yang relative tinggi apabila diusahakan secara efektif
dan efisien.
·
Cabai
-
Dilihat
dari segi modal:
Rata-rata modal yang dikeluarkan
oleh petani tradisional untuk menanam cabai pada ½ hektar lahan sawah adalah di bawah Rp
2.500.000 sedangkan modal yang di keluarkan oleh petani modern berkisar antara
Rp 20.000.000 sampai Rp 25.000.000 perbedaan ini desebabkan salah satunya
karena benih yang di beli oleh petani
moden adalah benih impor.
-
Dilihat dari segi keuntungan :
Dilihat dari
segi keuntungan komoditi cabai merupakan salah satu komoditi yang menghasilkan
profit yang besar, buktinya saja pada ½ hektar lahan sawah dapat memprosuksi
sekitar 16 ton cabai dengan harga per kg nya Rp 8.000. berarti keuntungan
petani kotor sebesar Rp 128.000.000 dan
pendapatan besihnya bisa mencapai Rp 100.000.000 sampai Rp 125.000.000, tentunya
sangat mengutungkan.
-
Dilihat dari segi selera dan permintaan masyarakat terhadap
cabai:
Pada saat
sekarang ini lidah masyarakat khususnya di Indonesia sudah sangat familiar
dengan cabai. Umumnya Masyarakat Indonesia menyukai rasa pedas sambal yang berasal
dari cabai. Saat ini cabai sudah merupakan salah satu bumbu dan penyedap yang
hamper selalu ada di setiap masakan.
Disini dapat terlihat bahwa selera dan permintaan masyarakat akan cabai yang
tinggi.
-
Dilihat
dari segi nilai ekonomis:
Nilai ekonomis komoditi cabai
tinggi karena cabai banyak di manfaatkan
sebagai bumbu utama di didalam aneka masakan. Disini kelompok kami menanam
cabai dengan menggunakan jerami padi sebagai pengganti mulsa plastik selain
faktor efesiensi produksi juga karena
ingin memanfaatkan fasilitas yang ada.
·
Kacang
Kedelai
-
Dilihat
dari segi modal:
Modal yang di keluarkan oleh
petani untuk menanam 1 hektar kacang kedelai adalah Rp 1.597.000.
-
Dilihat dari segi keuntungan :
Dari 1 hektar
lahan sawah dapat memproduksi sebanyak 2 ton kedelai dengan harga jual per kg
nya adalah Rp 2.500 maka keuntungan bersih petani adalah Rp 3.402.500
-
Dilihat dari segi selera dan permintaan masyarakat
terhadap kacang kedelai:
Kedelai sebagai
sumber protein nabati yang juga sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe
sudah sangat popular di kalangan Masyarakat Indonesia baik dari kalangan
menengah kebawah maupun mengengah keatas menyukai tahu dan tempe yang membuat
tingginya selera dan permintaan akan kacang kedelai.
-
Dilihat
dari segi nilai ekonomis:
Nilai ekonomis kedelai tinggi
karena kacang kedelai adalah sumber protein nabati yang menjadi bahan baku
pembuatan tahu, tempe dan susu kedelai yang kita ketahui sangat di gemari
hampir oleh semua orang di Indonesia yang
tentunya membuat permintaan dan nilai ekonomis kacang kedelai tinggi.
Gambar
Pola Tanam
SEP
OKT NOV DES JAN
FEB MAR APR
MEI JUN JUL AGS
|
|
|
D
I
B
E
R
A
K
A
N
|
||||||||||||||||||
|
|
Intensitas Penggunaan Lahan
1.
Intensitas MT1 dengan pola tanam monokultur
Komoditas Padi = 1 Ha x 100 %
= 100%
1 Ha
Intensitas= 100%
2.
Intensitas
MT2 dengan pola tanam polikultur
1 Ha
1 Ha
Intesitas MT2 = 50% + 50 % = 100%
3.
Intensitas
MT3 dengan pola tanam tumpang sari
Luas
lahan 1 ha,jadi untuk mendapatkan 5 baris bedengan dalam 1 ha maka 10.000
m ,maka panjangnya 500 m dan lebarnya 20
m.Jadi,Luas Lahan = 500 m x 20m Lebar bedengan = 1,5 m dan panjang bedengan =
4,5
Banyak
bedengan tiap baris (n)
Luas bedengan
1,5 x 4,5
6,75
Satu
baris dibuat 74 bedengan, namun kita menginginkan 5 baris, maka
74 x 5 =
370 bedengan/ha
Jarak Tanam
Jarak tanam cabai jika di tanam
secara tumpang sari adalah 50cm x 70 cm, sedangkan untuk kedelai 10 cm.
0,35 m bedeng)
populasi
cabai dalam 1 ha = 19 x 370 bedeng = 7030 cabai
0,1 m
populasi
kedelai dalam 1 ha = 45 x 370 bedeng = 16650 kedelai
Kebutuhan populasi / luas lahan yang
tersedia
Keterangan
:
·
Kebutuahan
populasi cabai / luas lahan yang
tersedia = 8000
·
Kebutuhan
populasi kedelai / luas lahan yang tersedia = 19000
I cabai = 7030 x 100% = 87,8 %
I Kedelai = 16650 x 100% = 87,6 %
I = 87,8% + 87,6% = 175,4 %
Intensitas
lahan keseluruhan = MT1 + MT2 + MT3
100%
+ 100% + 175,4% = 375,4 %
BAB III
KESIMPULAN
DAN SARAN
Budidaya
tanaman di Indonesia sangat menjanjikan karena permintaan pasar selalu ada,
terutama untuk komoditas diatas. Dalam pembudidayaan para pelaku budidaya harus
memperhatikan beberapa tahap antara lain : factor fisiologis, biologis, sosial,
dan ekonomi. Selain itu, para pembudidaya harus memperhatikan manajemen
usahatani agar proses pembudidayaan berjalan sesuai harapan.
Tugas Manajemen Agribisnis
Kelompok:
1
![]() |
Program Keahlian Manajemen Agribisnis
Program Diploma
Institut Pertanian Bogor
2013


Tidak ada komentar:
Posting Komentar